Page 12 - InsideTax Edisi 18th (Tren, Outlook dan Tantangan Perpajakan 2014: Apa Kata Mereka?)
P. 12

TARGET PAjAk TAhUN 2014,



                                      REALISTISkAh?






                                               “k
           Adri A. L. Poesoro dan B. Bawono Kristiaji 1        ondisi perekonomian global dan implikasinya
                                                               terhadap perekonomian domestik merupakan
           Walaupun     jarang   mencapai
        target  penerimaan   pajak,  pada                      hal yang bersifat given. Dengan demikian,
        tahun  2014,  pemerintah  dan  DPR                     rapor kinerja penerimaan pajak harusnya
        telah menyepakati suatu target yang       tidak melulu mempersalahkan kondisi perekonomian.
        cukup optimis atau bisa dikatakan         Pemerintah harus aktif dalam mengimplementasikan
        ambisius.  Target  penerimaan  pajak      berbagai terobosan yang dirasa perlu untuk mencapai
        menurut  APBN  2014  sebesar  IDR
        1.280,4  triliun,  di  mana  sekitar      target.”
        86%  (IDR  1.110,2  triliun)  berada
        di bawah tanggung jawab Ditjen
        Pajak. Lalu apakah target penerimaan
        pajak   tersebut  akan    tercapai?  penerimaan  pajak  sepertinya
        Tulisan ini akan mengupas prospek   tidak akan dapat menyentuh
                                                        2
        perekonomian di tahun 2014, serta   angka  93%.   Ini merupakan
        prediksi  pencapaian   penerimaan   titik  realisasi  terendah  selama
        pajak pemerintah.                   sepuluh tahun terakhir. Realisasi
                                            penerimaan    pajak    masih
                                            didominasi  sumbangsih  sektor
        Tahun 2013 sebagai Titik Terlemah
        Penerimaan Pajak?                   industri  pengolahan  (41%),
                                            sektor  perdagangan  besar  dan
                                            eceran (13%), sektor jasa
           Di tahun 2013, rasio penerimaan                                 perusahaan menurun. Celakanya, selama
                                                                        3
        pajak terhadap PDB (tax ratio)      keuangan dan asuransi (11%).     ini struktur penerimaan pajak Indonesia
        diperkirakan   mencapai    12,2%.   Selebihnya tersebar di sektor   masih didominasi Pajak Penghasilan
        Angka ini merupakan yang terendah   pertanian, pertambangan dan    (PPh) Badan terutama yang berada di
        di antara  negara-negara  anggota   penggalian, konstruksi,  jasa,   sektor  manufaktur,  pertambangan,  dan
        G-20,  maupun  emerging  economies   dan sebagainya.               perdagangan besar. Akibatnya, adanya
        lainnya. Lebih lanjut lagi, selama                                 goncangan bagi aktivitas usaha di
        enam tahun  belakangan,  tax ratio     Pelambatan        ekonomi   beberapa sektor tersebut jelas melemahkan
        di Indonesia hanya berada pada      dunia  kerap  dituding  menjadi   penerimaan pajak secara total.
        kisaran 11.5% dari PDB. Rendahnya   penyebab   tidak  tercapainya
        upaya    memobilisasi  pendapatan   target penerimaan pajak. Industri
        jelas  membuat    Indonesia  tidak  manufaktur dan pertambangan       Terlepas  dari faktor eksternal tersebut,
        dapat melakukan banyak ekspansi     (mineral) sangat terpukul karena   Indonesia  juga  masih  menghadapi
        pembangunan      tanpa    implikasi  penjualan produk mereka yang   persoalan-persoalan     khas   negara
        pembiayaan yang berasal dari utang   selama ini laku di pasar ekspor   berkembang,  misalkan:   kepatuhan
        dalam negeri maupun luar negeri.    menjadi  tidak  terserap.  Di
                                            sisi lain, lemahnya kebijakan   yang  rendah,  banyaknya  grey  area
                                            industrialisasi berimplikasi pada   yang  menimbulkan  multi  interpretasi,
           Hingga per tanggal 24 Desember                                  harmonisasi ketentuan pajak, basis pajak
        2013, Ditjen Pajak hanya mampu      ketergantungan  atas  barang   yang sempit,  lemahnya  kepercayaan
        merealisasikan penerimaan pajak     impor  yang  terutama  berupa   atas otoritas pajak, dan sebagainya.
        yang menjadi area tanggung jawabnya   barang modal dan energi (migas).   Padahal,  rendahnya  kepatuhan  dan
        hingga 89,76%. Walaupun belum final   Melemahnya nilai tukar rupiah   jumlah basis pajak jelas tidak sejalan
        karena masih perlu menunggu rekap   jelas  membuat  kegiatan  impor   dengan beberapa indikator yang bisa
        finalisasi di Januari 2014, realisasi   menjadi semakin mahal. Kedua
                                            hal tersebut jelas membuat laba   menjustifikasi geliat aktivitas ekonomi
                                                                           masyarakat, seperti: pendapatan perkapita
        1 Adri A. L. Poesoro adalah Chief Economist, DANNY   2 Menurut perhitungan tim riset DDTC, realisasi   yang terus meningkat, bertumbuhnya kelas
        DARUSSALAM Tax  Center,  merupakan Doktor lulusan   penerimaan Ditjen Pajak hanya  mampu
        Claremont Graduate University, USA. Sedangkan, B.   mencapai 92.2% saja.  menengah, dan semakin tingginya proporsi
        Bawono Kristiaji adalah  Partner,  Tax Research and                jumlah penduduk usia produktif.
        Training  Services, DANNY DARUSSALAM Tax Center,   3 Data ini belum memasukkan Pajak Bumi dan
        merupakan Master lulusan PPIE, FEUI.  Bangunan (PBB). Sumber: Ditjen Pajak.
     12  InsideTax|Edisi 18|Edisi Khusus
   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17