Page 15 - InsideTax Edisi 36th (Tren, Outlook, dan Tantangan Perpajakan 2016: Apa Kata Mereka?)
P. 15

suarapengamat


               ada dasarnya, kebijakan      terjadi surplus. Padahal, pertumbuhan   di Indonesia ini sangat lambat
               fiskal merupakan bagian      ekspornya sendiri sudah minus.      menyesuaikan diri pada perubahan-
               yang tidak terpisahkan          Selain  itu, Enny menuturkan,    perubahan yang timbul dari kebijakan
       Pdari kebijakan ekonomi.             pengeluaran  pemerintah  (government   pemerintah. Setelah triwulan III, ketika
        Dalam hal ini, kebijakan fiskal,    spending) di tahun 2015 ini dapat   pertumbuhan belanja pemerintah sudah
        atau lebih khususnya kebijakan      dikatakan   sebagai    pengeluaran  sebesar 6%, ternyata tidak mempunyai
        pajak seyogyanya harus sejalan      pemerintah yang terburuk sejak 10   dampak untuk memberikan stimulus
        dengan kondisi perekonomian         tahun terakhir atau bahkan sejak era   fiskal. Hal tersebut dibuktikan oleh
        yang sedang dihadapi.               reformasi. Di tahun 2009, memang ada   konsumsi rumah tangga yang tumbuh
        Beberapa tahun terakhir,            persoalan ekonomi yang disebabkan   tidak  lebih  dari  5%,  masih  di  angka
        beberapa negara termasuk            oleh   gejolak   eksternal,  tetapi  4,9%. Begitu pula dengan investasi
        Indonesia memang sedang             lambatnya  pengeluaran  pemerintah   yang  masih  di  bawah  5%,  meskipun
        dilanda situasi perlambatan         di tahun 2015 ini disebabkan oleh   sudah ada perbaikan yang sebelumnya
        ekonomi. Namun kemudian             keterlambatan birokrasi pemerintah.   3,55% (triwulan II) menjadi 4% lebih
                                                                                (triwulan III).
        beberapa pihak menyuarakan          Enny   menjelaskan,  keterlambatan
        bahwa kebijakan pajak yang          tersebut  tidak  terlepas  dari  adanya   Jika  melihat  struktur  dalam  PDB,
        dilakukan oleh pemerintah           masa transisi kepemimpinan, sehingga   porsi  konsumsi  rumah  tangga  cukup
        justru dinilai cukup kontradiktif   berpengaruh  pada  proses  persetujuan   besar yaitu 54% dari PDB sedangkan
        dengan kondisi ekonomi              APBN-P.                             porsi investasi sebesar 32%. Dua
        saat ini. Benarkah demikian?           “Dari APBN-P biasanya Januari-   komponen saja sesungguhnya sudah
        Untuk memahami persoalan            Februari  anggaran  sudah   mulai   mencapai sekitar 82%. Ketika dua
        tersebut, tim redaksi InsideTax     diserap, namun karena menunggu      komponen  ini  melambat,  maka  harus
        melakukan wawancara                 pembahasan APBN-P yang baru keluar   muncul peran  government spending.
                                                                                Menurut Enny, porsi belanja pemerintah
        dengan Enny Sri Hartati selaku      di akhir April, sehingga anggaran   memang hanya sekitar 8%, tetapi porsi
        pengamat ekonomi sekaligus          negara  tidak  bisa  dieksekusi  secara   tersebut sangat potensial dan strategis
        Direktur dari Institute For         cepat.” Tutur perempuan yang telah   untuk  bisa  mendorong  pertumbuhan
        Development of Economics and        mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi   konsumsi rumah tangga dan investasi.
        Finance (INDEF), Jakarta.           dari  Fakultas  Ekonomi  Universitas
                                            Diponegoro.                           Terkait hal ini, pemerintah harus
                                               Lebih  lanjut,  hingga  akhir  April   fokus  untuk  mengoptimalkan  potensi-
                                            anggaran juga belum bisa dieksekusi.   potensi  ekonomi  domestik  yang
                                                                                mempunyai korelasi cukup besar
        Situasi Ekonomi di Tahun 2015       Hal tersebut terjadi karena adanya   dengan  pertumbuhan,  apalagi  di
                                            perubahan di organisasi pemerintahan,
           Saat    ditanyakan    mengenai   sehingga penanggung jawab anggaran   tengah-tengah  situasi  global  yang
        bagaimana    situasi  ekonomi   di  baru selesai di bulan Juni. Sampai   penuh ketidakpastian. Menurut Enny,
        Indonesia, perempuan yang akrab  pada waktu tersebut, anggaran yang     pemerintah jangan selalu menyalahkan
        disapa  dengan  Enny  ini  mengamini  bisa dieksekusi baru anggaran yang   persoalan ekonomi global, karena ada
        bahwa di sepanjang tahun 2014  sifatnya  masih  rutin,  seperti  gaji   negara lain seperti India yang mampu
        dan 2015, perekonomian Indonesia  pegawai,  sedangkan  belanja  barang   mengelola potensi domestiknya dan
        sedang melesu. Pemerintah tidak bisa  masih banyak yang belum dieksekusi.   mampu  mencapai  pertumbuhan
        berharap banyak dari sisi perdagangan  Artinya, penyerapan anggaran sampai   mendekati  7%  meskipun  ikut
        luar  negeri  dikarenakan  harga  barang  pada pertengahan tahun 2015 masih   mengalami perlambatan ekonomi.
        komoditas yang semakin anjlok, apalagi  sangat rendah.                    “Sekali pun ada perlambatan
        kegiatan ekspor terbesar Indonesia     “Sampai   dengan    September,   ekonomi  dunia dan sebagainya,
        berasal dari ekspor komoditas. Enny   penyerapan anggaran masih kurang   tetapi  ketika  pemerintah  mampu
        menuturkan,    kebijakan  ekonomi   dari 40%, bahkan di level kementerian   membuat  kebijakan  fiskal  yang
        di  Indonesia  cukup  lambat  dalam   masih sekitar 20%. Ini baru dari sisi   mampu mendorong dan menjaga
        merespon situasi ekonomi yang ada.   penyerapan, belum dilihat bagaimana   peran stimulusnya terhadap konsumsi
        Menurut Enny, untuk periode Januari-  kualitas  penyerapan  dan  sebagainya.   rumah  tangga  dan  investasi,
        Oktober   2015    memang    terjadi  Oleh karena itu, sampai triwulan   sebenarnya tidak ada yang perlu
        surplus neraca perdagangan, namun   II, peran belanja pemerintah untuk   dikhawatirkan. Artinya benchmark
        surplus  tersebut  terjadi  bukan  karena   memberikan stimulus fiskal masih   pertumbuhan ekonomi kita yang
        kinerja ekspor, tetapi karena adanya   nihil.” Jelas Enny.              sebesar 5% masih bisa dicapai kalau
        penurunan nilai impor yang luar biasa.                                  kebijakan-kebijakan pemerintah tidak
        Anjloknya nilai impor jauh lebih besar   Enny melanjutkan, kondisi demikian   mendistorsi konsumsi rumah tangga
        melampaui nilai dari ekspor sehingga   menunjukkan  betapa  administrasi  dan investasi,” kata wanita yang juga

                                                                                 InsideTax | Edisi 36 | Edisi Khusus 2015-2016 15
   10   11   12   13   14   15   16   17   18   19   20